Kaya Rekreasi Riwayat Bangunan Banda Neira

Kaya Rekreasi Riwayat Bangunan Banda Neira

Kaya Rekreasi Riwayat Bangunan Banda Neira – Kepulauan Banda Neira sebagai salah satu kepulauan yang terbagi beberapa pulau dipropinsi Maluku.

Tidak cuma cantik, kepulauan yang ini merekam riwayat panjang perdagangan rempah-rempah yang diperebutkan oleh Bangsa Eropa seperti Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris.

Kaya Rekreasi Riwayat, Yok Datangi Bangunan di Banda Neira Ini

Bukan hanya itu, beberapa figur bangsa ini juga sempat pernah dikucilkan ke pulau yang satu ini. Sampai sekarang ini, kamu bisa mendapati beberapa bangunan yang merekam riwayat di kepulauan ini.

Baca Juga: Informasi Penting Pantai Ora

Berikut 9 bangunan monumental yang bisa saja opsi tujuanmu di Banda Neira.

Benteng Nassau

Berupa persegi empat dengan 4 buah bastion berupa panah di tiap seginya, Belanda membuat benteng ini untuk mengatur perdagangan rempah sebagai komoditas khusus yang cuman bisa diketemukan di pulau ini.

Di benteng yang sekarang tidak terurus ini, pernah terjadi tragedi pembantaian 44 “orang kaya” Banda yang waktu itu sebagai beberapa orang terhormat di pulau ini. Mereka dihajar dengan dipotong dengan seorang Jepang yang dicarter Gubernur Jenderal VOC waktu itu yang dipegang oleh Jan Pieterzoon Coen. Mereka dihajar di depan anak dan istri mereka karena tidak ingin runduk pada VOC.

Benteng Belgica

Coba kamu saksikan sisi belakang uang seribu baru emisi 2016, karena itu kamu akan mendapati gambar sebuah benteng dengan latar gunung. Itu benteng Belgica. Bangunan benteng paling terurus di pulau Neira ini berdiri istimewa di atas sebuah bukit tidak jauh dari benteng Nassau.

Benteng ini berupa sisi lima dengan bastion di tiap pojok sisi luar dan mempunyai menara pengintai di pojok sisi dalam. Berdasar prasasti pada bagian depan benteng, tempat dibuat di tahun 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Both.

Tempat ini menjadi pusat pemerintah VOC sebelumnya terakhir berpindah ke Batavia dan pangkalan militer di Kepulauan Banda Neira. Kamu dapat nikmati panorama Banda dan gunung Api Banda di atas bangunan yang sempat mendapatkan panggilan “Mahkota Berpucuk Lima di Atas Kepala Keluarga Nassau dan Perlindungan Banda” ini.

Rekreasi Bangunan Banda Neira Benteng Holandia

Dibikin di tahun 1642, benteng ini berada di pulau Lonthoir atau Banda Besar. Benteng ini bertemu dengan tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC atau yang saat ini dikenali bernama “Istana Mini” di pulau Neira.

Benteng ini dibangun untuk mengatur jalan raya kapal yang lewat selat di antara pulau Lonthoir dan Neira, khususnya rutinitas perdagangan pala di lajur itu.

Berupa persegi dengan bastion di tiap sudutnya, benteng ini diperlengkapi dengan ruangan pengintai. Sekarang sejumlah besar sisi dari benteng ini sudah remuk dan kamu cuman bisa menyaksikan bagian-bagian dari benteng ini.

Benteng Revengie

Benteng Revengie dibuat di pulau Ay yang berada di samping barat pulau Gunung Api. Wisata Benteng ini dibangun di atas sebuah bukit yang dikitari perkebunan pala.

Benteng ini dinamakan “Revengie” yang bermakna “pembalasan” karena warga Pulau Ay sempat pernah berpihak Inggris pada era ke 17. Beberapa orang Inggris latih warga pulau itu untuk menjaga dari gempuran Belanda di tahun 1615 dan warga Pulau Ay lakukan gempuran balasan secara tidak tersangka pada Belanda. Satu tahun selanjutnya Belanda kuasai Pulau Ay dan menghajar sejumlah besar warga pulau ini sebagai wujud balas sakit hati serangan yang dilaksanakan oleh warga Pulau Ay.

Benteng ini sempat pernah hancur berat karena gempa di tahun 1683 dan di tahun 1748 benteng ini jadi tempat pengisolasian untuk beberapa petinggi VOC yang lakukan tindak kriminal.

Istana Mini

Istana Mini sebagai sisa tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC saat berkuasa di pulau ini. Bangunan ini berpenampilan Eropa dengan lantai yang sejumlah besar dibuat dari marmer ini mendapatkan panggilan ‘”Istana Mini” karena memiliki bentuk yang sepintas serupa dengan Istana Merdeka di Jakarta berbentuk mini.

Ada banyak ruang dalam Istana Mini. Tetapi salah satunya yang memikat ialah ada sebuah ruang di mana kamu dapat mendapati tulisan curah hati seorang dari Eropa yang dia goreksan pada kaca jendela saat sebelum dia pada akhirnya lakukan bunuh diri.

Di komplek Istana Mini ini kamu bisa juga mendapati sisa kantor Gubernur VOC dan sebuah pelabuhan beberapa warisan lain seperti sebuah Patung Raja Willem III dan meriam-meriam warisan VOC.

Rekreasi Bangunan Banda Neira Pengisolasian Bung Hatta

Sesudah sepanjang lebih kurang satu tahun dibuang ke Boven Digoel di Papua, Bung Hatta dan Syahrir pada akhirnya dipindah ke Banda susul Iwa K dr dan oesoemasoemantri. Cipto Mangunkusumo yang sudah lebih dulu dikucilkan ke sini.

Mereka berdua datang di pulau ini pada tanggal 11 September 1936 dan tinggal dalam suatu rumah punya seorang tuan tanah. Pada tempat berikut sepanjang 6 tahun Hatta dan 16 peti berisi buku kepunyaannya jalani pengisolasian.

Sedangkan Syahrir cuman beberapa waktu tinggal di rumah ini karena pilih untuk tinggal di dalam rumah lain. Di salah satunya paviliun, Bung Hatta dan Syahrir membuat sekolah sore yang dituruti oleh beberapa anak pribumi di pulau ini.

Di dalam rumah yang lumayan besar ini kamu masih bisa mendapati banyak beberapa barang warisan Bung Hatta seperti kasur, almari, mesin tik, dan foto-foto.

Rumah Pengisolasian Syahrir

Rumah ini ada di muka Jalan Said Tjong Baadillah/Ratu Laguar dari sisi Rumah Budaya Banda dan bersebrang dengan Hotel Delfika. Syahrir berpindah sesudah beberapa waktu tinggal dengan Hatta ke sebuah rumah punya salah seorang pemilik perkebunan pala di Banda yang telah lama tidak dihuni.

Pada bagian di rumah dengan kombinasi style penjajahan dan tropis ini kamu bisa mendapati beberapa barang warisan dari Syahrir.

Terhitung sebuah gramofon kuno yang dipakai Syahrir untuk dengarkan beberapa lagu kegemarannya, mesin tik unik, dan beberapa photo Syahrir.

Rumah Pengisolasian dr. Cipto Mangunkusumo

Kamu kemungkinan kerap dengar dokter yang satu ini. Namanya didokumentasikan jadi nama sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Saat sebelum Bung Hatta dan Syahrir tiba ke sini, dr.Tjipto Mangoenkoesoemo telah lebih dulu dikucilkan ke pulau ini bersama-sama dengan Iwa Kusumasumantri.

Dokter asal Jawa ini dibuang ke Banda Neira di tahun 1927 dan dikucilkan ke Banda Neira. Sepanjang lebih kurang 13 tahun sebelumnya terakhir dipindahkan ke Ujung Pandang dan Sukabumi. Tetapi karena penyakit asmanya yang makin kronis, dr. Tjipto balik ke Jakarta dan wafat di Jakarta pada 8 Maret 1943 dan disemayamkan di Ambarawa.

Rekreasi Bangunan Banda Neira Rumah Budaya Banda

Menelusuri riwayat Banda akan berasa lebih komplet bila kamu berkunjung Rumah Budaya Banda ini. Pada tempat ini kamu bisa menyaksikan bermacam catatan dan warisan riwayat yang terkait dengan pulau ini. Beberapa barang warisan VOC seperti bermacam tipe meriam, keramik tiongkok, mata uang, dan lukisan-lukisan yang memvisualisasikan keadaan Banda di periode lalu.

Lukisan yang sangat menarik dalam museum ini bergantung di ruangan khusus yaitu berbentuk lukisan memiliki ukuran besar. Dengan memvisualisasikan pembantaian “Orang kaya” Banda di Benteng Nassau di tahun 1621 dengan seorang Samurai Jepang. Kamu bisa juga mendapati samurai yang dipakai dalam pembunuhan itu di museum ini.

Pulau ini tidak cuma tawarkan keelokan alam pantai dan bawah lautnya saja. Tetapi bangunan-bangunan monumental yang merekam cerita mengenai perdagangan rempah-rempah, penjajahan, dan perjuangan beberapa figur bangsa.

Nach, apa kamu ketarik berekreasi riwayat ke Banda Neira?